Tahun
Hingga
Lokasi
Indonesia (64)
Jakarta (52)
Malaysia (12)
Surabaya (11)
Paris (10)
Lainnya
  • Bandung (9)
  • India (8)
  • Australia (7)
  • Bogor (5)
  • Semarang (5)
  • Kuala Lumpur (5)
  • Palembang (4)
  • New York (4)
  • Malang (4)
  • Brussels (4)
  • London (4)
  • Vietnam (3)
  • Thailand (3)
  • Guinea (3)
  • Cirebon (3)
  • Houston (2)
  • Laos (2)
  • Washington (2)
  • Leicester (2)
  • Madrid (2)
Menampilkan arsip Kompas hari ini lima tahun yang lalu.
Silakan masuk/daftar untuk mendapatkan arsip lebih lengkap.
Menemukan 152 data.
Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image

Novak Djokovic mencetak sejarah dengan merebut trofi Final ATP Tour empat kali berturut-turut setelah mengalahkan Roger Federer, Minggu (22/11) di partai puncak Final ATP Tour 2015.Setelah menerima trofi, pemain nomor satu dunia berusia 28 tahun itu mengaku kerap mencubit tubuhnya sendiri untuk memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi merebut banyak trofi turnamen yang ia impikan sejak kecil.”Saya menikmati... (Budi Suwarna)

KOMPAS WEB edisi Senin, 23 Nov 2015

4
0
Rp4.000,00

Di atas kertas, Indonesia kelebihan guru. Namun, nyatanya terdapat sekolah yang kekurangan guru, terutama di daerah terpencil dan tertinggal. Di tempat itu beban guru sangat berat. Tak jarang mereka mengajar dua hingga enam kelas sekaligus. Distribusi guru masih menjadi masalah kronis.

KOMPAS WEB edisi Senin, 23 Nov 2015

0
0
Rp0,00

Ingar-bingar politik menjadi berita utama media dan mele- nakan pembacanya. Namun, ada masalah yang butuh perhatian para elite dan pemerintahan.

KOMPAS WEB edisi Senin, 23 Nov 2015

0
0
Rp0,00

Dengan tema gaya pelesetan, ”Bhinneka Tunggal Jazznya”, pergelaran Ngayogjazz Ke-9, Sabtu (21/11), tidak saja menampilkan keragaman musik jazz, tetapi juga mengoperasikan tema keberagaman dalam realitas kehidupan. ”Kami hanya ingin menampilkan pesan keberagaman, mulai proses sampai berlangsungnya pertunjukan. Bagaimana keragaman masyarakat desa yang Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha secara sukarela membantu pelaksanaan pergelaran, ini adalah peristiwa... (TOP)

KOMPAS(Nasional) edisi Senin, 23 Nov 2015

Hal. 11
0
0
Rp4.000,00
Image

Wisatawan menikmati pertunjukan tarian Patung Sigale Gale di Tomok, Samosir, Sumatera Utara, Minggu (22/11). Pertunjukan ini diminati banyak wisatawan saat berkunjung ke Pulau Samosir. Wisatawan bisa ikut menari bersama patung ini. (Heru Sri Kumoro)

KOMPAS(Nasional) edisi Senin, 23 Nov 2015

Hal. 11
1
0
Rp4.000,00

Pada Desember 2015, pemerintah akan mewisuda 400.000 Rumah Tangga Sasaran Penerima Manfaat (RTSPM) Program Keluarga Harapan (PKH) yang berhasil dientaskan dari kondisi prasejahtera menjadi keluarga yang mandiri. ”Mereka adalah kelompok yang sukses bangkit dari kondisi ekonomi prasejahtera menjadi mandiri, ” kata Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa di acara distribusi beras bagi masyarakat sejahtera ke-14 di Desa Roso, Kecamatan Pecangaan, Jepara, Jawa Tengah, Minggu (22/11). Menurut Khofifah, berdasarkan riset dari Kementerian Keuangan, yang mampu mempersempit ketimpangan adalah PKH dengan target diwisuda setelah lima tahun. Hingga saat ini, PKH sudah berjalan delapan tahun dan dalam lima tahun ditargetkan... (ABK)

KOMPAS(Nasional) edisi Senin, 23 Nov 2015

Hal. 11
0
0
Rp4.000,00
Image

Para calon kepala daerah di Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, dan Kabupaten Gresik, Jawa Timur, berlomba menawarkan rencana pembangunan infrastruktur di daerahnya. Pembenahan infrastruktur transportasi dibutuhkan karena ketiga wilayah ini menjadi pusat investasi di sektor industri dan perdagangan. Calon wali kota Surabaya nomor urut satu, Rasiyo, mengatakan, pembenahan transportasi sangat penting untuk mengantisipasi kemacetan yang meningkat. Untuk itu, komunikasi antara Pemerintah Kota Surabaya, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah di sekitarnya perlu diperkuat. ”Selain membangun jalan, ancaman banjir juga perlu diperhatikan agar lalu lintas tak terganggu. Jadi perlu koordinasi dengan Gresik terkait Kali Lamong,” kata Rasiyo, Minggu (22/11), di Surabaya. Koordinasi lainnya perlu dilakukan dengan Sidoarjo supaya akses dari dan ke Bandar Udara Juanda semakin mudah. (DEN; NIK; ACI)

KOMPAS(SBY) edisi Senin, 23 Nov 2015

Hal. 23
1
0
Rp4.000,00

Pemasangan alat peraga kampanye Pilkada Kota Surabaya, sejak Oktober lalu, ternyata tak cukup membuat warga tahu bahwa kota ini sedang dalam proses pemilihan wali kota dan wakilnya untuk periode 2015-2020, yang diselengggarakan serentak pada 9 Desember mendatang. ”Lha, katanya pilkada, kok gak ada geregetnya. Pengumunan cuma dipasang di kantor pagar kelurahan, kecamatan, dan jalan besar. Lha, di permukiman, kok, gak ada tanda-tanda kalau Surabaya juga akan memilih wali kota. Sebenarnya coblosan itu kapan, ya,” tanya Yulis (45), ibu rumah tangga, tinggal di Kutisari Selatan, Surabaya, Minggu (22/11). (ETA)

KOMPAS(SBY) edisi Senin, 23 Nov 2015

Hal. 23
0
0
Rp4.000,00

Beberapa alat peraga kampanye yang disebar pasangan calon wali kota dan wakil wali kota Surabaya masih menempel di kaca angkutan kota, tembok, bahkan dipaku di pohon. ”Lha, itu atribut kampanye sudah dilarang oleh Panitia Pengawas Pemilu, tetap saja dipaku di pohon. Wong, menanam saja tidak, kok, dengan mudah memaku. Lama-lama pohon akan mati,” ujar Nita (34), warga Rungkut, Surabaya, sambil menunjuk poster pasangan calon yang masih dipaku di pohon di sekitar rumahnya, Minggu (22/11). Bukan hanya dipaku di pohon, di beberapa angkutan umum dari Terminal Joyoboyo ke arah Rungkut juga masih tertempel stiker pasangan calon wali kota dan wakil wali kota meski Panitia Pengawas Pemilu sudah meminta agar dibersihkan. (ETA)

KOMPAS(SBY) edisi Senin, 23 Nov 2015

Hal. 23
0
0
Rp4.000,00
Image

Wali Kota Surabaya terpilih nantinya diharapkan serius membenahi infrastruktur pengairan. Sebagai kota besar, Surabaya semakin dipadati penduduk sehingga kebutuhan akan air bersih pun meningkat. Saat ini, beberapa daerah masih kesulitan mendapatkan air bersih, seperti yang dialami Sahabudin (63), warga di Wonosari, Kelurahan Wonokusumo, Kecamatan Semampir, Surabaya, Minggu (22/11). ”Saya setiap hari harus beli air yang dijual dengan jerigen,” kata Sahabudin. Ia pun perlu mengantre bersama warga kampung lainnya untuk mendapatkan air yang dihargai Rp 5.000 per jerigen isi 20 liter, yang dijual dengan menggunakan gerobak. (DEN)

KOMPAS(SBY) edisi Senin, 23 Nov 2015

Hal. 23
1
0
Rp4.000,00
Lupa Password
Silakan masukan alamat E-mail Anda. Kami akan mengirimkan password baru ke E-mail tersebut
Email
Set Ulang Sandi berhasil
Kata sandi telah berhasil dikirim ke alamat E-mail Anda.