Taman Monas: Menikmati Jakarta dari Langit

KOMPAS edisi Kamis 9 September 2010 Halaman: 26 Penulis: Alexey, Caesar

Taman Monas: Menikmati Jakarta dari Langit

Taman Monas

MENIKMATI JAKARTA DARI LANGIT

Andi (10) berlari-lari kecil menuju ke Firman, ayahnya. Sang ayah merangkul Andi dan keduanya tersenyum sambil berpose membelakangi Tugu Monas.

"Ini kedua kalinya kami mengunjungi Monas. Kami ingin bersantai di tempat yang teduh sambil menunggu saat buka puasa," kata Firman, warga Cempaka Putih.

Bagi Firman dan keluarganya, Taman Monas yang merupakan lokasi yang sangat menyenangkan untuk bercengkerama bersama keluarga atau teman, sambil ngabuburit menjelang maghrib. Hutan kota di jantung Jakarta merupakan tempat yang cocok untuk menghabiskan waktu bersama keluarga.

Pohon-pohon yang tinggi dan rindang membuat cahaya matahari sulit untuk menerobos. Selain itu, oksigen yang dihasilkan oleh daun-daun hijau juga memberi kesegaran yang sangat berbeda dibanding kondisi di Jalan Medan Merdeka yang mengelilingi Taman Monas.

Polusi dan kebisingan lalu lintas nyaris tidak terasa di tengah- tengah Taman Monas. Tidak perlu khawatir mencari tempat duduk karena banyak tersebar di taman itu.

Herry, pendatang dari Solo yang tinggal di kawasan Roxy, mengatakan, dia sering tiduran di bangku panjang Taman Monas jika sedang rindu kampung. Baginya, Taman Monas bagaikan obat penawar saat dia rindu kampung halaman yang rindang dan teduh. "Untung masih ada Taman Monas, saya masih bisa lari sejenak dari hiruk-pikuknya Jakarta yang membuat stres," katanya.

Tugu Monas

Selain taman yang rindang dan teduh, obyek wisata utama di kawasan itu adalah Tugu Monas, yang menjulang setinggi 132 meter. Tugu yang melambangkan lingga dan yoni itu memiliki dua daya tarik utama, yaitu Museum Sejarah Perjuangan Nasional dan dan pemandangan dari ketinggian Tugu Monas.

Di museum itu terdapat 12 diorama atau jendela peragaan sejarah Indonesia, dari zaman kerajaan-kerajaan sampai pemberontakan PKI. Pengunjung juga dapat mendengar suara Soekarno saat membaca teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Pemandangan dari Tugu Monas dibagi dalam dua bagian, pelataran bawah dan pelataran atas. Pada pelataran bawah, pengunjung dapat menikmati hutan kota Taman Monas.

Sedangkan pada pelataran atas, pengunjung dapat menikmati pemandangan kota Jakarta. Sebagian besar pemandangan adalah hutan beton dan rumah-rumah yang padat berimpit.

Ke arah barat, pengunjung dapat melihat pesawat turun dan naik dari Bandara Soekarno-Hatta, tetapi bangunan bandaranya tidak terlihat. Jika melayangkan pandangan ke selatan, pengunjung dapat melihat pemandangan Gunung Salak di Bogor.

"Pada tahun 1980-an, saya masih dapat melihat Pelabuhan Tanjung Priok dari atas Tugu Monas ini. Kini, pemandangan ke pelabuhan sudah terhalang oleh gedung-gedung tinggi," kata Supriyanto, warga Tebet.

Bagi Supriyanto, perkembangan Jakarta dari tahun ke tahun dapat dilihat dari Tugu Monas. Jakarta terasa semakin sesak dan padat. Tumbuhan hijau dan lapangan terbuka semakin jarang terlihat dari atas.

"Saya sedih jika melihat Jakarta dari atas Monas. Lebih baik turun ke Taman Monas dan menikmati rindangnya pepohonan. Sejuknya udara di taman membuat kita lupa haus sambil menunggu saat berbuka," kata Supriyanto.

Bagi pengunjung yang ingin berbuka puasa atau ingin makan siang saat di luar bulan puasa, mereka dapat menikmati makanan di kantin yang ada di pelataran parkir. Ada puluhan tenda pedagang makanan yang siap melayani berbagai menu pilihan pengunjung.(CAESAR ALEXEY)

Cara Penggunaan Artikel

  1. Penggunaan artikel wajib mencantumkan kredit atas nama penulis dengan format: ‘Kompas/Penulis Artikel’.
  2. Penggunaan artikel wajib mencantumkan sumber edisi dengan format: ‘Kompas, tanggal-bulan-tahun’.
  3. Artikel yang digunakan oleh pelanggan untuk kepentingan komersial harus mendapatkan persetujuan dari Kompas.
  4. Artikel tidak boleh digunakan sebagai sarana/materi kegiatan atau tindakan yang melanggar norma hukum, sosial, SARA, dan mengandung unsur pelecehan/ pornografi/ pornoaksi/ diskriminasi.
  5. Pelanggan tidak boleh mengubah, memperbanyak, mengalihwujudkan, memindahtangankan, memperjualbelikan artikel tanpa persetujuan dari Kompas.

Cara Penggunaan Infografik Berita

  1. Penggunaan infografik berita wajib mencantumkan kredit atas nama desainer grafis dengan format: ‘Kompas/Desainer Grafis’.
  2. Penggunaan infografik berita wajib mencantumkan sumber edisi dengan format: ‘Kompas, tanggal-bulan-tahun’.
  3. Infografik Berita tidak boleh digunakan sebagai sarana/materi kegiatan atau tindakan yang melanggar norma hukum, sosial, SARA, dan mengandung unsur pelecehan/ pornografi/ pornoaksi/ diskriminasi.
  4. Data/informasi yang tertera pada infografik berita valid pada waktu dipublikasikan pertama kali, jika ada perubahan atau pembaruan data oleh sumber di luar Kompas bukan tanggungjawab Kompas.
  5. Pelanggan tidak boleh mengubah, memperbanyak, mengalihwujudkan, memindahtangankan, memperjual-belikan infografik berita tanpa persetujuan dari Kompas.
Lupa Password
Silakan masukan alamat E-mail Anda. Kami akan mengirimkan password baru ke E-mail tersebut
Email
Set Ulang Sandi berhasil
Kata sandi telah berhasil dikirim ke alamat E-mail Anda.