Pelajaran dari SARS dan Penyakit Misterius Lain * Iptek & Kesehatan

KOMPAS edisi Minggu 13 April 2003 Halaman: 22 Penulis: Soeharsono

Pelajaran dari SARS dan Penyakit Misterius Lain * Iptek & Kesehatan

PELAJARAN DARI SARS DAN PENYAKIT MISTERIUS LAIN

Dalam dua bulan terakhir, ada dua hal yang menyedot perhatian penduduk dunia. Pertama, invasi Amerika ke Irak, dan kedua, wabah sindrom pernapasan akut parah (severe acute respiratory syndrome/SARS).

Dampak buruk dari agresi Amerika secara tidak langsung telah dirasakan oleh Indonesia antara lain dengan penurunan ekspor barang dan penurunan jumlah turis mancanegara. Namun, wabah SARS yang bermula dari Cina tampaknya dapat menimbulkan dampak yang lebih hebat dari agresi Amerika. Soalnya, secara langsung-meskipun belum terbukti sampai saat ini-dapat masuk ke Indonesia dan secara tidak langsung menyebabkan penurunan jumlah turis mancanegara. Belum lagi rasa waswas yang melanda sebagian masyarakat.

Kerugian yang lebih besar bagi Indonesia kemungkinan karena secara geografis, negara yang kini terjangkit SARS sangat dekat dengan Indonesia dan mobilitas penduduk pergi ke atau datang dari daerah tertular juga sangat pesat. Cukup satu orang saja tertular virus SARS masuk ke Indonesia dan lolos dari penanganan intensif yang sudah disiapkan pemerintah, maka ia dapat menjadi sumber penular bagi mereka yang berdekatan. Jumlah ini akan berlipat ganda dengan cepat, seperti yang terjadi di Cina.

Berbagai informasi mengindikasikan bahwa Cina merupakan tempat asal mula kejadian SARS. Bahkan, kasus SARS diduga telah ada sejak November 2002 di Guangdong. Sangat disayangkan bahwa Cina menutupi kasus tersebut sampai akhirnya menyebar ke Hongkong. Dari Hongkong inilah SARS menyebar ke berbagai penjuru dunia.

Baru pada awal April 2003, Pemerintah Cina mengizinkan tim dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk melakukan penyidikan wabah SARS. Ucapan terima kasih perlu disampaikan pada Dr Carlo Urbani, ahli kesehatan WHO yang menangani program kesehatan masyarakat di Kamboja dan Laos, sebagai orang pertama yang menyalakan sinyal bahaya atas penyakit yang disebutnya pneumonia atipikal (kemudian dikenal dengan nama SARS) akhir Februari 2003 ke WHO. Sayang sekali ia meninggal akibat penyakit yang sedang ditelitinya. Tanpa laporannya, mungkin penyebaran SARS akan lebih luas lagi.

Pelajaran apa yang dapat dipetik dari wabah SARS?

Jangan ditutupi

Dengan berbagai alasan, antara lain tidak mau menimbulkan kepanikan masyarakat yang akan merayakan tahun baru Imlek, Cina sengaja menutupi penyakit yang sedang berkecamuk di negerinya. Kalau saja peringatan dini dilakukan Pemerintah Cina, mungkin SARS dapat dibatasi di daratan Cina saja.

Pada masa lalu, pejabat di Indonesia juga sering menutupi atau mengecilkan bahaya, termasuk apabila terjadi penyakit, baik pada hewan maupun manusia. Setelah ramai dibicarakan di media massa, barulah berita tersebut terungkap secara jelas.

Dalam bidang kesehatan hewan, setiap kejadian penyakit menular- terutama yang masuk dalam Daftar A-harus segera dilaporkan kepada Office International des Epizooties (OIE) yang berkedudukan di Paris. Untuk penyakit menular manusia, tentu saja diberikan ke WHO.

Telah lama disadari bahwa penyakit hewan maupun manusia ternyata tidak mempunyai batas administratif. Bahkan, batas lautan pun terkadang dilampaui, seperti halnya West Nile Encephalitis yang menyeberang dari Afrika ke Amerika bersama migrasi burung.

Dengan memberikan laporan kepada OIE atau WHO, maka negara di seluruh dunia, terutama negara yang berbatasan, dapat meningkatkan kewaspadaan dan mengambil langkah-langkah yang dianggap perlu.

Dalam kasus ternak, misalnya, Australia yang menjadi negara tetangga kita dan mengandalkan ternak sebagai komoditas ekspor sangatlah waswas apabila terjadi penyakit menular pada hewan di Indonesia. Oleh karena itu, Australia tidak segan mengeluarkan biaya dan bantuan teknik ketika terjadi wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) di Indonesia. Peternak di Australia dapat bernapas lega ketika PMK berhasil dibebaskan dari Indonesia.

Membuka kerja sama

Berbagai penyakit menular diketahui memerlukan metode diagnosis yang cukup rumit. Meskipun penyebab SARS kemungkinan besar adalah virus corona, masih terbuka kemungkinan peran virus lain seperti virus paramyxo atau mungkin penyebab yang lain.

Pelajaran yang bagus dapat disimak dari Malaysia ketika pada tahun 1998 terjadi penyakit nipah yang menewaskan sekitar 100 orang di Malaysia dan 2 orang di Singapura. Mengetahui bahwa penyakit yang dihadapi ternyata bukan Japanese Encephalitis, Malaysia menjalin kerja sama dengan Australian Animal Health Laboratory di Geelong (Australia), CDC Atlanta, WHO Collaborating Centre for Tropical Diseases di Nagasaki, Jepang.

Berkat penelitian intensif dengan peralatan canggih, akhirnya penyakit nipah dapat diberantas dalam tempo relatif singkat, setelah sekitar 1 juta ternak babi dibantai. Belakangan diketahui bahwa penyakit nipah adalah penyakit baru (new emerging disease) yang disebabkan oleh virus paramyxo. Virus ini diduga berasal dari hutan dan dibawa lewat kelelawar besar (kalong) kemudian menular ke babi dan akhirnya ke manusia.

Apabila penyebab SARS nanti ternyata virus corona, perjalanan yang ditempuh untuk mendapatkan vaksin masih jauh. Virus corona manusia (HCV) terkenal sulit ditumbuhkan dalam biakan sel. Ini berbeda dengan virus corona pada hewan seperti infectious bronchitis (IB) pada ayam dan transmissible gastroenteritis (TGE) yang sudah tersedia vaksinnya.

Peran penyidik penyakit

Masyarakat pada umumnya mengenal penyidikan apabila terjadi pencurian, kemudian polisi datang untuk melakukan penyidikan di TKP. Dalam setiap kejadian menular, baik pada hewan maupun manusia, seyogianya diturunkan tim penyidik dalam jumlah kecil, 1-2 orang saja. Penyidik ini sebaiknya tenaga muda yang mempunyai fisik kuat, berbekal pengetahuan epidemiologi dan penyakit menular penting, terutama penyakit daerah tropik, dan memahami sedikit teknik laboratorium untuk diagnosis penyakit. Penyidik berbeda dengan peneliti yang pada umumnya mempelajari penyakit tertentu secara mendalam. Dalam tempo singkat, yakni 2-4 hari, seorang penyidik harus mampu memberikan laporan singkat kepada pemegang kebijakan berupa:

a. seberapa hebat penyakit itu (jumlah orang terserang, jumlah kematian, kecepatan penyebaran, dan sebagainya).

b. cara penularan dan gejala menonjol.

c. diagnosis sementara

d. tindakan yang harus segera dilakukan oleh pemerintah daerah setempat atau pihak terkait.

Dalam melakukan penyidikan, seorang penyidik perlu membawa peralatan untuk mengambil spesimen. Teknik tentang pengambilan spesimen untuk pemeriksaan laboratorium, penyimpanan, dan transportasi /pengiriman spesimen harus dikuasai pula. Dalam hal SARS, CDC Atlanta telah mengeluarkan petunjuk untuk mengambil spesimen dari pasien yang dicurigai menderita SARS. Kesalahan dalam hal pengambilan spesimen dapat berakibat hasil pemeriksaan laboratorium negatif palsu, atau mungkin muncul penyebab lain. Untuk penyidik penyakit hewan diperlukan pula kemampuan melakukan autopsi (bedah bangkai) di lapangan, membaca perubahan pascamati yang ditemukan, dan mengambil spesimen untuk pemeriksaan laboratorium.

Spesimen yang diambil oleh penyidik perlu dikirim ke laboratorium yang kompeten. Apabila laboratorium dalam negeri belum mampu melakukan pemeriksaan karena keterbatasan fasilitas atau SDM, perlu dicarikan jalan untuk mengirim spesimen ke luar negeri, terutama yang ditunjuk oleh WHO untuk penyakit manusia atau OIE untuk penyakit hewan. Jangan sampai laboratorium sederhana dipaksakan untuk mengerjakan penyakit berbahaya, karena bisa berakibat fatal bagi petugas laboratorium. Para ahli dalam bidang penyakit manusia atau hewan pada umumnya telah menyadari keterbatasan laboratorium di dalam negeri. Kiranya keterbatasan tersebut juga dipahami oleh pimpinan di daerah atau di pusat.

Gambaran seorang Don Francis (Kompas, 6 April 2003) sebagai seorang detektif penyakit patut dimiliki oleh Indonesia. Tidak perlu memiliki banyak detektif penyakit. Cukup 15-20 penyidik penyakit yang tersebar di berbagi tempat di Indonesia, namun harus siaga setiap saat diperlukan. Dalam hal penanganan penyakit, makin cepat ditangani, makin cepat terkendali, dan makin murah biaya yang diperlukan.

Drh Soeharsono DTVS PhD Mantan penyidik penyakit hewan di Denpasar

Foto: Associated Press/Vincent Yu

PAKAIAN ASTRONAUT--Para petugas kesehatan mengenakan pakaian pelindung tubuh yang mirip baju astronaut, keluar dari apartemen Amoy Gardens di Hongkong, Rabu (9/4). Kawasan apartemen itu tenar ke seluruh dunia sebagai tempat asal berjangkitnya penyakit SARS yang menewaskan 25 orang dan menjangkiti 900 lainnya.

Cara Penggunaan Artikel

  1. Penggunaan artikel wajib mencantumkan kredit atas nama penulis dengan format: ‘Kompas/Penulis Artikel’.
  2. Penggunaan artikel wajib mencantumkan sumber edisi dengan format: ‘Kompas, tanggal-bulan-tahun’.
  3. Artikel yang digunakan oleh pelanggan untuk kepentingan komersial harus mendapatkan persetujuan dari Kompas.
  4. Artikel tidak boleh digunakan sebagai sarana/materi kegiatan atau tindakan yang melanggar norma hukum, sosial, SARA, dan mengandung unsur pelecehan/ pornografi/ pornoaksi/ diskriminasi.
  5. Pelanggan tidak boleh mengubah, memperbanyak, mengalihwujudkan, memindahtangankan, memperjualbelikan artikel tanpa persetujuan dari Kompas.

Cara Penggunaan Infografik Berita

  1. Penggunaan infografik berita wajib mencantumkan kredit atas nama desainer grafis dengan format: ‘Kompas/Desainer Grafis’.
  2. Penggunaan infografik berita wajib mencantumkan sumber edisi dengan format: ‘Kompas, tanggal-bulan-tahun’.
  3. Infografik Berita tidak boleh digunakan sebagai sarana/materi kegiatan atau tindakan yang melanggar norma hukum, sosial, SARA, dan mengandung unsur pelecehan/ pornografi/ pornoaksi/ diskriminasi.
  4. Data/informasi yang tertera pada infografik berita valid pada waktu dipublikasikan pertama kali, jika ada perubahan atau pembaruan data oleh sumber di luar Kompas bukan tanggungjawab Kompas.
  5. Pelanggan tidak boleh mengubah, memperbanyak, mengalihwujudkan, memindahtangankan, memperjual-belikan infografik berita tanpa persetujuan dari Kompas.
Lupa Password
Silakan masukan alamat E-mail Anda. Kami akan mengirimkan password baru ke E-mail tersebut
Email
Set Ulang Sandi berhasil
Kata sandi telah berhasil dikirim ke alamat E-mail Anda.