Pengawasan Petugas Masih Longgar * Warga Berstrategi Hindari Aturan Ganjil-Genap

KOMPAS edisi Rabu 31 Agustus 2016 Halaman: 28 Penulis: WAD; DEA; C04

Pengawasan Petugas Masih Longgar * Warga Berstrategi Hindari Aturan Ganjil-Genap

Pengawasan Petugas Masih Longgar

Warga Berstrategi Hindari Aturan Ganjil-Genap

JAKARTA, KOMPAS —Sejumlah kendaraan bernomor polisi ganjil masih leluasa melintas pada hari pertama penerapan tilang dalam kebijakan ganjil-genap di jalan protokol, Selasa (30/8). Pada tanggal genap, hanya mobil bernomor polisi genap yang boleh melintas di bekas ruas jalan 3 in 1 pada jam tertentu. Sebagian pelanggar pun didenda.

Namun, pengamatan Kompas di Jalan MH Thamrin, tepatnya di simpang Sarinah dan Bank Indonesia, ada pukul 18.00-19.00, masih ada beberapa mobil bernomor ganjil, B 1097 RFW, B 1281 FBW, B 1827 DI, dan B 1591 RFW, yang melintas. Baik petugas dinas perhubungan maupun polisi lalu lintas tidak menilang kendaraan-kendaraan tersebut. Mereka beralasan kondisi jalan sedang macet akibat jam pulang kerja dan selepas hujan. Mereka khawatir penegakan tilang justru membuat jalan semakin macet.

”Saya di sini cuma berjaga sendirian, prioritas saya mengatur lalu lintas saja. Apalagi, di sini ada pertemuan jalan alternatif, daripada tambah macet, mungkin ditindaknya di tempat lain,” ujar polisi lalu lintas yang berjaga di simpang Sarinah, Selasa malam.

Petugas dishub yang berjaga di dekat halte Bank Indonesia juga mengatakan, petugas kerap kesulitan mengawasi nomor polisi kendaraan yang melintas. Pasalnya, pengawasan dilakukan pada saat lampu lalu lintas merah yang durasinya hanya beberapa menit. Menurut petugas, sebagian besar kendaraan yang berada di barisan depan sudah menaati aturan. Namun, jika dilihat lebih jeli lagi, pasti ada kendaraan yang melanggar dan lolos dari pengamatan petugas.

”Harus jeli matanya karena kendaraan banyak dan lampu lalu lintas tidak terlalu lama. Kalau posisi sedang macet banget seperti ini, kami juga kesulitan menindak,” ujar petugas dishub yang berjaga di simpang Bank Indonesia.

Wakil Kepala Dishub DKI Jakarta Sigit Wijatmoko mengatakan, ada beberapa kendaraan yang ditilang selama operasi ganjil-genap. Total kendaraan yang ditilang sejumlah 219 kendaraan. Kendaraan, di antaranya, ditindak karena tidak memiliki kelengkapan surat izin mengemudi, tidak ada STNK, ataupun melanggar aturan ganjil-genap. Sigit membantah ada dispensasi penegakan aturan ganjil-genap pada jam macet. Ia berjanji akan menegur petugas yang tidak menindak kendaraan pelanggar.

”Jam pemberlakuan sistem ganjil-genap tidak ada dispensasi. Saya akan cek dan ingatkan petugas dan pengawas,” ujarnya.

Tindakan

Hari Selasa di Bundaran Senayan, Jakarta, pukul 08.00 hingga 10.00, setidaknya tujuh polisi bersiaga di dekat lampu lintas Jalan Pattimura menuju Jalan Jenderal Sudirman.

Setiap ada mobil berpelat nomor ganjil memasuki jalan tersebut, polisi meminta pengemudi untuk menepi di dekat pos jaga polisi. Pada Selasa, mobil yang diperbolehkan melintasi adalah kendaraan berpelat nomor genap sehingga pelanggar ditilang.

Lalu lintas di Jalan Jenderal Sudirman padat merayap mulai 60 meter dari jalur masuk hingga Polda Metro Jaya atau sekitar 2 kilometer. Kecepatan kendaraan di jalur tersebut berkisar 10-20 kilometer per jam.

Wakil Kepala Satuan Pencegahan dan Pengaturan Ditlantas Polda Metro Jaya Mujiana, yang tengah mengawasi di Bundaran Senayan, menyatakan, pihaknya menilang 38 pelanggar dalam rentang waktu pukul 07.00-10.00. Menurut dia, masih ada pelanggar beralasan belum mengetahui keberadaan ganjil-genap.

Menurut Mujiana, jumlah petugas yang berjaga terbatas untuk bisa menilang semua pelanggar. ”Terkadang masih ada pelanggar yang lolos,” ujarnya.

Sejumlah warga menerapkan berbagai cara untuk menghindari denda tersebut. Adi (52), pemilik mobil berpelat ganjil, menuturkan, saat tanggal genap, ia harus memindahkan mobilnya dari Indofood Tower di Jalan Jenderal Sudirman ke kawasan Blok M pada jam makan siang. ”Saya pindahkan agar bisa menghindari jalur ganjil-genap sehingga bisa pulang pukul 17.00,” ucap Adi.

Meski ganjil-genap diterapkan, Adi masih merasakan kemacetan ketika melewati bekas jalur
3 in 1 di Jalan Jenderal Gatot Subroto.

Joko (61), sopir pribadi yang mengendarai mobil berpelat nomor genap, mengungkapkan, atasannya kerap mengadakan pertemuan dengan klien di kawasan Jalan Jenderal Sudirman. Ia selalu mengantar dari Jalan Pattimura. ”Saat tanggal ganjil, kami baru berangkat di atas pukul 10.00 agar terhindar dari penilangan,” kata Joko.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Awi Setiyono menjelaskan, kendaraan yang menggunakan pelat rahasia harus mematuhi peraturan ganjil-genap. Pelat rahasia yang dimaksud adalah pelat hitam yang diakhiri dengan kode huruf RF. ”Itu, kan, sebenarnya kendaraan dinas yang dijadikan pelat hitam. Jadi, harus taat dan mengikuti aturan,” katanya.

Kendaraan yang tidak mengikuti peraturan ganjil-genap hanya yang berpelat nomor dinas, termasuk TNI/Polri, ambulans, dan pemadam kebakaran. Kendaraan awak media untuk meliput tak terikat aturan juga.

(WAD/DEA/C04)

Cara Penggunaan Artikel

  1. Penggunaan artikel wajib mencantumkan kredit atas nama penulis dengan format: ‘Kompas/Penulis Artikel’.
  2. Penggunaan artikel wajib mencantumkan sumber edisi dengan format: ‘Kompas, tanggal-bulan-tahun’.
  3. Artikel yang digunakan oleh pelanggan untuk kepentingan komersial harus mendapatkan persetujuan dari Kompas.
  4. Artikel tidak boleh digunakan sebagai sarana/materi kegiatan atau tindakan yang melanggar norma hukum, sosial, SARA, dan mengandung unsur pelecehan/ pornografi/ pornoaksi/ diskriminasi.
  5. Pelanggan tidak boleh mengubah, memperbanyak, mengalihwujudkan, memindahtangankan, memperjualbelikan artikel tanpa persetujuan dari Kompas.

Cara Penggunaan Infografik Berita

  1. Penggunaan infografik berita wajib mencantumkan kredit atas nama desainer grafis dengan format: ‘Kompas/Desainer Grafis’.
  2. Penggunaan infografik berita wajib mencantumkan sumber edisi dengan format: ‘Kompas, tanggal-bulan-tahun’.
  3. Infografik Berita tidak boleh digunakan sebagai sarana/materi kegiatan atau tindakan yang melanggar norma hukum, sosial, SARA, dan mengandung unsur pelecehan/ pornografi/ pornoaksi/ diskriminasi.
  4. Data/informasi yang tertera pada infografik berita valid pada waktu dipublikasikan pertama kali, jika ada perubahan atau pembaruan data oleh sumber di luar Kompas bukan tanggungjawab Kompas.
  5. Pelanggan tidak boleh mengubah, memperbanyak, mengalihwujudkan, memindahtangankan, memperjual-belikan infografik berita tanpa persetujuan dari Kompas.
Lupa Password
Silakan masukan alamat E-mail Anda. Kami akan mengirimkan password baru ke E-mail tersebut
Email
Set Ulang Sandi berhasil
Kata sandi telah berhasil dikirim ke alamat E-mail Anda.